alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Monday, March 05, 2007
Saat dukungan menjelma bebanTiba-tiba saja aku teringat perisitwa 4 tahun yang lalu. Di atap kosan lama, bersama bapak, menatap langit yang memajang bintang. Malam itu banyak nasehat, banyak mimpi terucap, banyak pertanyaan penguji kesiapan, banyak proses pendewasaan. Aku masih ingat dukungan bapak akan pilihan hidupku, dari segi apapun. Saat ibu masih sedikit menentang keputusanku karena kepeduliannya yang terlalu merasuk kepada anak bungsunya, bapak memberi dukungan yang tak pernah aku kira. Dukungan yang saat itu menyemangatiku, namun kini,,entah,,seperti membebaniku... Tidak,,bapak bukannya mendesakku agar secepatnya mewujudkan obrolan panjang kami malam itu. Ia tak kenal lelah menyemangatiku dengan caranya sendiri. Bahkan berhasil membuat ibuku turut mendukung. Mereka begitu bersemangat membangun anak tangga untuk kupijak meraih mimpi-mimpiku. Mereka membentang kertas putih yang teramat besar sebagai wadah membuat sketsa hidupku nanti.
Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata teman-temanku. Komentar-komentar mereka menyikapi tingkah polahku. Imajinatif. Lucu. Pedas. Tapi itu semua bukti mereka meluangkan waktu untuk mendengarkan umpatan, ketakutan, harapan ku untuk berbagai hal di masa depan. Mereka mendukung dengan cara yang berbeda. Yang terkadang baru bisa kumengerti setelah difiltrasi berulang kali. Yang terkadang membantuku melangkah sedikit demi sedikit saat aku berpikir untuk tak melaju lagi. Dan terkadang menjadi rambu yang melarang memutar arah saat aku bosan.
Tiba-tiba saja aku teringat semua dukungan. Dukungan yang apabila tak bisa aku wujudkan tak ubahnya melecehkan mereka dan diriku sendiri. Malam ini begitu menyesakkan menatap cermin dan menemukan diriku yang entah sudah bermetamorfosis seperti apa karena harapan dan dukungan. Seperti ada yang menggayut di ragaku. Meletakkan tanda-tanda yang cukup jelas, lewat jelaga hitam di sekitar mataku yang kurang tidur, lewat serapah yang mengalir begitu deras dari mulutku..
Tiba-tiba saja aku melihat dukungan dan beban adalah rectoverso. Mata koin dengan dua sisi yang saling menempel dan membelakangi satu sama lain. Berbeda tapi lekat. Saat aku meletakkan koin itu ditelapak tangan dengan sisi dukungan menengadah sebagai penyemangat, pun masih bisa kurasakan tekstur beban yang telungkup. Sebuah koin yang sepertinya belum bisa kubelanjakan di toko penjaja mimpi..