welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat perbincangan via dunia maya dengan ketiga teman dekat saya dari SMA. Yang pertama adalah seorang perempuan, cerdas, kuliah di fakultas hukum salah satu universitas negeri terkemuka di
Ketika saya pamit karena ada acara yang ingin saya hadiri, teman saya yang kuliah di fakultas hukum ini sedikit tidak rela karena sedang dimulai diskusi tentang apakah seharusnya saat pacaran, pihak cewe patungan dengan pihak laki-laki untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan saat kencan. Saya berpendapat, saat pacaran, tidak semua pengeluaran harus ditanggung oleh laki-laki. Selain tidak adil, itu bisa membuat perempuan berada di bawah kuasa laki-laki secara finansial. Kata teman saya itu, itu bisa menguji apakah benar laki-laki itu sayang ama si cewe atau nggak. Agak sedikit aneh menurut saya, ketika ukuran sayang diukur rupiah. Kita terbiasa menyenangkan orang yang kita sayang, salah satunya dengan memberikan apa yang dia mau, saya setuju itu. Tapi tidak selalu dengan cara membelanjakan atau membiayai. Memupuk kemandirian finansial pasangan misalnya, membuat dia menghargai kita dan membuatnya berlaku adil, merupakan representasi kasih sayang juga.
Saat itu saya tak sempat mengungkapkan argumen singkat dan seadanya itu, namun saya berniat untuk menuliskan beberapa pemikiran saya tentang diskusi tersebut di blog ini dan berkata kepada mereka untuk membacanya jika sempat. Tiba-tiba dua perempuan itu mempertanyakan fungsi blog dan mereka bilang tidak butuh blog karena masih punya teman curhat dan bukan selebritis! Wah! Sedikit tendensius pertanyaan dan pernyataan yang mereka ungkapkan. Meski konteksnya bercanda, namun tetap saja komunikasi itu bersifat irreversible.. Terkadang istilah "bercanda.." atau "jangan diambil hati.." pun tak sanggup menghapus bersih keterkesiapan dan ketidaknyamanan yang saya rasakan saat itu. Bagi saya, keberadaan blog turut mempertegas eksistensi saya, sebagai individu yang mencintai menulis dan merasakan kenikmatan di dunia literatur. Blog adalah kontribusi saya terhadap kebebasan berekspresi. Saya tidak merasa tidak punya teman curhat ataupun merasa kisah hidup saya sebegitu pentingnya untuk dibaca semua orang. Saya menggunakan blog sebagai media katarsis agar otak saya tidak mutung. Toh saya tidak menulis layaknya di diary seputar problematika emosional saja. Saya menulis tentang seksisme, keyakinan, agama, dan lain2 disana. It’s my baby. Lahir dari persetubuhan excitement dan realitas. Saya orang yang enggan berdiam jika ada persoalan yang membuat saya gemas. Jika redaksi media
Fungsi blog amat banyak. Bukan saya saja yang berpendapat seperti itu rasanya. Majalah Time bahkan mengukuhkan komunitas blogger sebagai pihak yang berpengaruh terhadap perubahan arus informasi dan opini publik di abad 21. Salah satu petinggi industri musik yang berpengaruh di dunia, pengorbit Fall Out Boys dan The Killers, seorang perempuan yang saya lupa namanya (nanti akan saya revisi kalau sudah ingat), mengawali kesuksesan dan kekayaannya lewat media blog dengan resensi2 dan analisisnya seputar Morrisey. Bukankah itu cukup mengklarifikasi dan menjelaskan manfaat blog?
I’m not being angry for what my friends have been mentioned and cause this writing, just a little bit upset perhaps, hehe. Yet, I want to justified that people shouldn’t forget for things that distract their brains, say it if you want to, documented it, for share thoughts, to make a better what so ever called world.