welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse

Sepertinya dulu kita dekat. Duduk berdampingan. Bertukar cerita. Tertawa bersama. Berdebat dan saling menyerapah. Menertawakan hal-hal lucu di sekitar. Mempertanyakan cita. Aku bernyanyi dan kau mengiringinya dengan irama. Belum ada hening yang janggal. Tak ada canggung yang meraja. Meski kita masih dalam sebuah institusi yang kau istilahkan penjara. Dengan seragam berwarna sama.
Ingatkah kau saat-saat itu? Mungkin kau sudah lupa. Karena kita memilih jalan yang berbeda untuk mengantisipasi hidup selepas seragam itu kita tanggalkan. Walau kita sama-sama memuja seni merangkap momentum dengan kamera. Walau kita sama-sama menghabiskan waktu luang memandangi layar kaca yang menerjemahkan rotasi keping tipis bulat sinematografi.
Ah kawan, sejak kapan beku tak kasat mata itu menghijab? Dulu perbincangan kita begitu beragam. Jujur. Bebas. Menyenangkan. Tak cuma basa-basi seperti kini. Otakkku belum dijejali bermacam teori dari buku-buku yang ku baca. Keberanianku untuk menyampaikan argumen belum terasah. Belum sanggup aku mendefinisikan ketertarikanku akan sesuatu, gugatanku akan sesuatu.
Kau selalu tertawa mendengar kisah-kisah yang bahkan kelak aku lupa. Sampai-sampai, tiap paginya, sebelum menginjakkan kaki di ruang kelas, selalu ada niat membuat cerita itu bernilai humor tinggi agar bisa kulihat lengkung di bibirmu. Entah, mungkin karena selalu ku lihat sendu di matamu. Pernahkah kau menangis agar sendu itu meluntur tarbawa arus air mata? Aku selalu ingin mempertanyakan hal itu. Ingin mendengar kisah sedih yang tergalur di rupamu. Lebih ingin ketimbang kapan kali pertama kau masturbasi, kali pertama mencium bibir kaum hawa, kali pertama menghisap racikan tembakau yang dilinting, kali pertama mabuk..
Seberapa jauh sang waktu mengubah dirimu? Diriku? Hingga kita tak lagi dekat seperti dulu... Kita sudah tak lagi di penjara. Seharusnya kita bebas mengungkapkan apa saja. Seharusnya kita bertambah dekat. Tidak hanya duduk berdampingan, tapi juga berjalan beriringan. Bukan hanya bertukar cerita atau tertawa bersama, tapi juga terbahak hingga sudut mata kita basah karena gembira tiap bersua. Tidak sekedar berdebat dan saling menyerapah, tapi juga menganalisa dan menuntaskan masalah. Bukan sekedar menertawakan hal-hal lucu di sekitar atau mempertanyakan cita, tapi juga mewujudkan mimpi-mimpi yang tak habis-habisnya hinggapi jiwa..
Sungguh,,
Aku masih ingin bernyanyi diiringi irama yang kau cipta..
Rindu kau dengan jalan yang seharusnya,,
Sungguh...