the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Sunday, December 03, 2006
homesick (sorry dad)Minggu terakhir November aku pulang ke Jakarta. Kota yang menyelipkan rumahku di salah satu sudutnya. Hampir seminggu. Cukup lama, mengingat kuliahku tidak sedang libur atau rehat. Agenda utama sebenarnya mengerjakan tugas salah satu mata kuliah. Tugas kali ini mengharuskanku untuk pulang larut tiap harinya. Selalu di atas pukul 22.00. Aku menikmati keseluruhan proses, kecuali satu, jarang di rumah malam harinya. Memang, tiap kali pulang aku jarang berada di rumah,tapi setidaknya tiap malam aku masih bisa bercengkrama dengan lelaki paruh baya yang kupanggil bapak&perempuan tambun yang kusapa emak. Kakakku yang sekarang sedang mengandung calon keponakanku sudah tak tinggal satu atap lagi, jadi wajar saja ketika pulang, berbincang dengan dia pun tak se-intens dulu..
Kemarin sepertinya aku kurang meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan bapak. Dengan emak masih, saat siang sebelum turun ke lapangan. Bapak?Ah, lelaki itu sudah mendengkur ketika aku pulang dan membanting tulang ketika aku terjaga pagi harinya.. Dan saat ini aku benar-benar merindukannya.. Banyak stimuli yang datang tiba-tiba. Mungkin dari gelak tawanya saat berbincang denganku via telepon beberapa jam yang lalu. Mungkin karena penyesalan mengingat kemarin aku tak sempat meluangkan waktu seperti biasanya. Rasa lelah ternyata membuatku menepis afeksi yang ia berikan. "Aduuhh,,bapak,,jangan ngegelendot gitu ah! Dede capek,kemaren kan pulangnya malem banget!" begitu aku berkata ketika pagi2 sebelum ia pergi ke pabrik, dirinya menyempatkan memelukku yang masih amat mengantuk, sembari bertanya ingin sarapan apa.. Tapi seperti biasa, ia tidak pernah membuat suatu permasalahan menjadi "mumet".. Ia berkata, "ooh,,iya-iya,,maap dek..Nanti pergi lagi? Ya udah, ati-ati ya..Bapak kerja dulu..".. Dan mesin motor bebeknya pun perlahan terdengar menjauh, tanda ia sudah melaju demi menghidupi keluarganya.
Kemarin emak bercerita, pabrik bapak sedang mengadakan pengurangan pegawai. Serikat pekerjanya sedang bergejolak. Kata Emak, Bapak sempat khawatir terkena pengurangan, mengingat jabatannya tidak terlalu penting dan dirinya sudah tua. Tapi perempuan itu mengingatkan suaminya agar tidak usah memikirkannya hingga larut. Ibuku selalu percaya kalau sudah rejeki tidak akan lari kemana. Tiba-tiba aku teringat perbincangan aku dan Bapak Lebaran kemarin. Ia berkata bahwa sebenarnya dirinya sama saja dengan buruh,,yang agar tidak terkesan merendahkan dilabeli sebagai karyawan..Kemudian ia berkata, "Saya nggak tahu serikat pekerja akan ngebawa saya ke mana. Pengabdian dihargai dengan uang, pesangon. Lalu bagaimana nasib pekerja muda yang di PHK kemarin? Yang mungkin jauh lebih berbakat dan berguna dibanding saya. Lalu apakah hak saya nantinya hanya sebatas uang pesangon, pensiun? Saya punya hak untuk datang tiap paginya dan menjalankan mesin-mesin yang begitu saya akrabi. Saya juga punya hak memberi makan kucing liar yang menemani saya lembur malam. Saya punya hak makan dan ngobrol bareng pemimpin lama yang saya panggil namanya saja, tanpa embel-embel pangkat..Saya punya hak seperti itu kan?" Entah kenapa pernyataannya mengusik ku. Ya, ayah ku seorang buruh yang mencari penghargaan lebih dari sekedar rupiah..Ia ingin dihargai, tak hanya dari ongkos produksi, uang capek..Ia menyukai pabrik yang telah membawaku ke perguruan tinggi, menjadikan kakakku sarjana, mengisi waktu luangnya, menyuapi perut kami sekeluarga, mempertemukannya dengan sahabat-sahabatnya..
Kemarin,, aku tak sempat minum kopi bersamanya, tak sempat meminum teh di cangkirnya seperti yang biasa kami lakukan,,aku bahkan tak sempat pamit pada Bapak..Tak sempat memeluknya dan mendengarnya berkata, "ati-ati ndhuk..".. Sedikit aneh rasanya,, dan yang membuat itu semua menjadi lebih dramatis adalah ingatanku akan sebuah mimpi di satu malam, aku lupa kapan, tapi yang pasti tentang kematian Bapak. Jika nanti ia meninggal lebih dulu, pasti aneh rasanya pulang dan menemukan tak ada sosok pria kecil, bergigi jarang, botak, berkumis, konyol, pemurah, sabar, cuek, tukang ngilang, yang menyetel lagu2 koes ploes kencang-kencang, yang mengajakku menari, yang memainkan gitar dan bernyanyi di depan pintu rumah, yang kerap mendiskusikan alien dan perbintangan, yang tak bisa membuka kemasan dengan tangan kosong, yang mencuci sepatu converseku secara paksa, yang berteriak-teriak sendiri di depan layar kaca yang mempertunjukkan GP moto500, yang mengajariku mengumpat pertama kali, yang memperbolehkanku bolos hanya dengan alasan malas, yang menyuruhku jangan pernah putus asa untuk meraih apa yang aku rasa bisa buat aku bahagia, yang aku sayang...
Ya, pasti akan aneh...