alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Saturday, December 23, 2006
02.12.2006
Saturday
20.00
STEREOTIP GENDER
Suatu kali, ketika keluarga besar dari Bapak saya sedang berkumpul, salah satu sepupu saya yang saat itu menjadi tuan rumah menawarkan beberapa produk pakaian. Melihat anggota keluarga yang lain mencoba, mengepas, dan membeli dengan harga miring, saya pun menghampiri (selain karena ibu saya juga menyuruh dan berniat membelikan jika ada yang saya suka, hehe, opurtunis!). Setelah memilih dua potong kemeja untuk saya coba, saya melihat tumpukan lain dan mengambil salah satu kemeja lagi yang menurut saya memiliki warna hijau yang indah. Tiba-tiba sepupu saya berkata, "eh, itu mah buat cowo ti..". Saat itu saya hanya merespon, "oh.." dan meletakkan kembali kemeja itu..Tapi kemarin ketika salah satu teman saya mengungkapkan istilah stereotip gender dan mengambil contoh sifat perempuan yang lebih sabar saya jadi teringat peristiwa perdagangan kebutuhan sandang dengan sepupu saya tersebut.
Kemudian muncul kebosanan saya dengan stereotip gender ini. Tentang dikotomi "selera cewe" atau "selera cowo". Ungkapan-ungkapan, "Perempuan ga baik pulang malam-malam", "Perempuan merokok seperti perempuan nakal", "Laki-laki harus lebih kuat", "Laki-laki kok nangis?", "Itulah kalau gaji istrinya lebih besar daripada suaminya, jadi ngelunjak", blablabla..
Bagi saya, stereotip gender ini seperti menjadikan manusia tak lagi memilih sesuatu sesuai keinginan dan atau kebutuhannya. Ambil contoh alas kaki. Mengapa sepatu yang disebut "sepatu perempuan" harus memiliki penyangga di bagian tumitnya bernama hak, berbentuk menyempit di bagian ujung kaki (yang merapatkan satu jari dengan jari lainnya), dan tidak terlalu nyaman dipakai untuk jangka waktu lama? Atau riasan saat ada acara formal. Kenapa perempuan diperbolehkan, bahkan dipaksa untuk memakai riasan yang cukup tebal, biasanya dengan alasan "nanti keliatan pucat" sementar laki-laki tidak? Memangnya semua perempuan berkulit lebih putih dibanding laki-laki sehingga agar tidak pucat harus memakai riasan berlebih?
Ah, stereotip memang selalu melabeli manusia seperti produk di pasaran.