alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Monday, September 11, 2006
Hapus Hari KartiniTulisan ini dedikasikan untuk siapapun yang menganggap, menomorsatukan, menjadikan, dan atau bahkan mengkultuskan Kartini sebagai satu-satunya ikon emansipasi perempuan di Indonesia (dimana saya sangat tak setuju):
Dikutip dari tulisan Gadis Arivia, Postkolonialisme dan Feminisme di Mana Kartini?, Jurnal Srinthil Edisi Januari 2006,
Di rumahnya yang nyaman, karena ia anak seorang bupati terkenal, Kartini menulis tak henti-hentinya kepada teman Belandanya, Stella Zeehandelaar, seorang sosialis yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis di Belanda dan memiliki jaringan dengan orang-orang Belanda yang berpengaruh. Kartini dibesarkan dengan privilese seorang priyayi Jawa, mendapatkan pendidikan yang layak, berbahasa Belanda, sastra dan seni, pelajaran tentang agama Islam dan pendidikan Barat secara ekstensif. Ketika harus meninggalkan bangku sekolah, Kartini tetap mendapatkan bimbingan dari Marie Ovink-Soer, istri kontrolir Jepara, wakil pegawai administrator kolonial. Dia mengenalkan Kartini pada sastra feminis Belanda, mengajarkannya melukis, memasak ala Eropa, dan membimbing kefasihannya balajar bahasa Belanda (Cote dalam Yulianto, 2004 : xiv). Dengan demikian, Kartini fasih berbicara tentang feminisme dan kritis terhadap perkembangan politik di tanah Jawa.Pertama, Kartini mendambakan sosok perempuan yang independen, dalam suratnya Jepara, 25 Mei 1899, ia menulis bahwa :Aku sunggguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkan dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas bergelora. Ya, aku bisa katakan, meski aku tak akan pernah mengalaminya di Hindia, namun aku tak akan pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudariku yang berada nun jauh di sana, di Barat :Bagi Dr. Joost Cote, Kartini adalah seorang feminis karena mengalami pencerahan pendidikan Belanda dan keterlibatannya pada wacana-wacana feminis Belanda (Cote, dalam Yulianto, 2004: xiii). Kartini pun mengungkapkan dalam suratnya yang sama di tahun 1899:
Almarhum kakekku, Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak adalah seorang pelopor kemajuan yang gigih-dia Bupati pertama dari Jawa Tengah yang mengundang “seorang tamu” dari seberang lautan : budaya Barat untuk masuk ke rumahnya.Kedua, Kartini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Liberal tentang hak-hak individunya dan hak pendidikan yang setara. Suratnya tertanggal 13 Januari 1900 dan 25 Mei 1899 berbunyi :
Aku tidak pernah membiarkan perempuan-perempuan yang lebih tua dariku, meski status sosialnya lebih rendah dariku, untuk memberi hormat sesuai dengan gelarku.. Hatiku teriris, saat melihat orang-orang, yang usianya lebih tua dariku, berjalan merangkak berlumur debu untukku.
..Kami anak-anak perempuan, diikat oleh adat-istiadat dan kebiasaan, hanya boleh sedikit saja mencicipi kemajuan, terutama pada bidang pendidikan.
Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mempermasalahkan hal ini :Yang pertama dan utama, aku akan menghapus adat kebiasaan buruk yang lebih memihak anak laki-laki daripada anak perempuan. Kita tidak seharusnya terkejut akan sifat laki-laki yang memikirkan diri sendiri saat kita menyadari bagaimana, sejak kecil dia sudah dimenangkan dari perempuan, adiknya. Dan sudah semenjak masa kanak-kanaknya laki-laki sudah diajari untuk merendahkan perempuan.Keempat, Kartini menyikapi perkawinan dengan sinis, suratnya tanggal 23 Agustus 1900 mengungkapkan :Tuhan menciptakan perempuan sebagai teman laki-laki, dan takdir hidupnya adalah untuk menikah. Baik, hal ini tidak harus diingkari dan aku mengakuinya dengan senang hati, meski berabad-abad yang akan datang kebahagiaan tertinggi bagi perempuan terus akan, hidup sederajat dengan laki-laki! Taip sekarang siapa yang bisa hidup dalam persatuan yang harmonis jika hukum perkawinan seperti yang sudah aku gambarkan ini? Tidak wajarkah jika aku sendiri membenci, memandang rendah perkawinan jika hasilnya merendahkan martabat perempuan dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan?Kelima, Kartini menyatakan “perang” terhadap poligami, dalam surat tahun 1900:Untungnya, tidak semua Muslim mempunyai empat orang istri, tapi setiap perempuan yang sudah menikah di belahan dunia kami sadar bahwa dia mungkin bukan istri satu-satunya dan cepat atau lambat suami yang dicintainya itu bisa saja membawa seorang teman untuknya yang mempunyai hak sama atas suaminya : menurut hukum Islam, perempuan itu sudah menjadi istri sah.
…………….
Dalam konteks Kartini, permasalahan perempuan yang ia ungkapkan adalah permasalahan sebuah cita-cita besar yang ingin diraihnya, atau bisa juga pemikiran teman-teman Belandanya yang sangat ia kagumi itu. Namun, ia tidak berbicara tentang pengalaman pergulatan persoalan dirinya sendiri. Ia hanya menjadi “medium” sebuah cita-cita besar kendaraan untuk teks-teks aliran besar, persamaan, kesetaraan, dan hak-hak perempuan yang telah diformulasikan oleh Barat (Belanda). Buktinya? Dari kelima isu-isu feminis yang dikemukakan Kartini, sebagian besar ia gagal. Kesetaraan pendidikan yang ia cita-citakan sebatas cita-cita pencerahan yang ia cuplik dari ide-ide Barat. Tidak pernah ia memperjuangkannya dalam ruang lingkupnya, mengenal dan bergumul dengan kaum perempuan Jawa yang tertindas, tidak pula terbersit olehnya untuk mengajari mereka membaca. Kartini berhenti pada kata “kasihan” unruk matoritas perempuan Jawa yang bodoh. Kritiknya terhadap poligami tidak terwujud secara nyata. Akhirnya, ia mengalah dinikahkan kepada pria yang telah beristri dan mati karena melahirkan, di usia yang masih muda, 24 tahun.Mungkin yang paling menyakitkan dan tragis adalah pengakuan tentang ibunyua di dalam suratnya tertanggal 18 Agustus 1899, “Ibuku masih sangat terhubung dengan terhubung dengan Kerajaan Madura. Kakek ibu yang hebat adalah Raja dan neneknya seorang Ratu. Tapi kami tidak terlalu memikirkan hal ini.” Yang Stella tidak tahu dan Kartini tahu benar bahwa ibunya sesungguhnya bukanlah seorang keturunan priyayi melainkan seorang selir. Tampaknya Kartini lebih nyaman mengidentifikasi dirinya sebagai bangsawan.
………………
Setelah semua yang tertuang di atas, sekarang giliran saya untuk mengemukakan alasan mengapa saya mengatakan tidak setuju jika Kartini dianggap, dinomorsatukan, dijadikan, dan atau bahkan dikultuskan sebagai satu-satunya ikon emansipasi perempuan di Indonesia :
Pertama, Tidak hanya Kartini, perempuan pahlawan yang berjuang dalam permasalahan emansipasi perempuan dan pergerakannya di Indonesia. Ada Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan sederet nama perempuan lain yang menurut pemikiran saya lebih nyata mengimplementasikan proses pemberdayaan perempuan di Indonesia, khususnya pada zaman penjajahan, dimana bangsa Indonesia masih dijajah para penjajah dan perempuan masih dijajah dengan patron budaya patriarkal yang kental.
Kemudian, Sekedar mengulang pernyataan Gadis Arivia, Kartini sebagian besar GAGAL dalam isu-isu perempuan yang ia lemparkan. Ia hanya menyuarakannya sebatas surat. Tidak ada langkah selanjutnya dari pemikiran dia yang menurut saya, hebat. Ia mengungkapkannya dalam bahasa yang cerdas dan inspiratif. Namun itu tak ubahnya masturbasi, kepuasan untuk dirinya sendiri.
Lalu mengapa pula perempuan yang akhirnya diberi satu hari dengan embel-embel nama dirinya di belakangnya adalah Kartini? Mengapa harus ada Hari Kartini? Mengapa tidak Hari Perempuan Indonesia saja? Kecelakaan sejarahkah? Karena dulu hegemoni Jawa mendominasi cukup lama di Indonesia? Dan seperti yang tidak bisa dipungkiri, sejarah secara tidak langsung terbentuk dari saringan pihak-pihak yang berkuasa saat itu, agar apa yang mereka inginkan langgeng dalam ingatan generasi setelahnya? Ah, entah, yang saya inginkan lewat tulisan ini hanyalah agar siapapun yang membacanya bisa memaknai perjuangan perempuan-perempuan Indonesia lainnya mengenai kesetaraan gender sesuai pada porsinya, tidak hanya Kartini.