alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Wednesday, August 09, 2006
sebuah cerita pendek biasaKATAMU Katamu Aku aneh. Aku mungkin aneh. Terserah katamu apa. Tak peduli Aku. Aku bisa bisu jika Aku mau. Aku bisa menggumam hingga ribut. Aku bisa bertingkah seperti orang gila jika aku ingin. Pun berlaku dalam takaran waras, Aku bisa. Sungguh bisa. Aku bisikkan puji hari ini. Esok Aku teriakkan caci. Jika tak mengerti mengapa Aku begini, tak usah coba mengkaji. Kau bilang Aku aneh. Terserah. Jangan mengatur. Karena orang yang mungkin aneh ini malas diatur. Dan orang yang mungkin aneh ini malas mengatur. Itu kataku. Gugat saja jika tak setuju. Kau bilang hidupku sebuah kekonyolan. Mungkin memang konyol. Aku memilih konyol daripada munafik. Lebih baik hidup konyol daripada mati konyol. Jangan lupa, Aku tuan atas diriku. Aku yang bertanggung jawab atas tingkahku. Bukan Kau. Kau bebas bilang Aku tak pikir panjang atas kehendakku. Aku bebas bilang Kau pikir pendek terburu-buru mengatakan pikiranku pendek. Tak apa..
Katamu kami serasi. Aku dengan Ia. Aku aneh. Ia aneh. Sama-sama aneh, ujarmu. Tapi Aku tak mau Ia. Aku mau Kau. Mungkin malam itu saja. Mungkin juga untuk malam-malam berikutnya, seperti malam ini. Sudah lama Aku dan Kau tidak bertatap muka. Tahun-tahun lewat, tak ada cengkerama. Tak pernah bersua. Tak ada rindu di sela-sela ketidakberadaanmu. Tapi kali itu, bersamamu Aku ingin menyaksikan fajar. Hingga hilang orang-orang yang lalu lalang. Hingga hilang hingar-bingar yang kalahkan bising pasar. Hingga kisah-kisah tumpah ruah. Hingga kita sama-sama resah. Hingga diam ada karena mau kita. Tapi ada yang membuatku harus pergi. Secara bergegas. Mengapa tak cegah? Aku ingin Kau cegah. Mengapa menatap lama-lama jika tak ingin mencegah? Mulutmu bergetar, ingin bersabda apa sebenarnya? Apa dugaku salah? Apa Kau sebenarnya sudah jengah? Tahukah Kau Aku pergi menyeret gundah? Karena Kau tidak mencegah.Tak apa..
Katamu malam itu sebelum kepergianku, Kau tak bisa menyediakan waktu. Karena itu Kau malas menjalin kisah yang juga enggan kujalin. Kita sama-sama malas. Juga takut. Kita sama-sama pengecut. Malam itu penuh basa-basi. Coba buat dialog rintangi sepi, Kau selalu bisa. Seperti kita baru berjumpa kemarin. Aku bercerita tentang Ia. Kau tak bercerita tentang siapa. Aku tak menyebut nama Ia. Kau tak bertanya nama Ia. Tak apa..
Katamu malam itu sebelum kepergianku, Aku seperti tersakiti. Aku menyangkal itu. Aku tak pernah tersakiti. Bahkan tak pernah memberi kesempatan untuk tersakiti. Oleh Ia, atau siapa. Aku tak pernah tahu apa Kau pernah tersakiti. Karena selalu ada kesedihan di matamu. Kesedihan yang indah. Sendu yang tak pernah berubah. Misteri yang enggan Kau singkap. Rahasia untukmu sendiri. Tak apa..
Katamu malam itu sebelum kepergianku, Aku selalu menyenangkan, meski aneh. Dulu, kini, mungkin nanti. Ada sesuatu didiriku yang membuatmu berubah. Katamu Kau telah berubah. Menjadi lebih baik menurutmu. Menurutku juga begitu. Lalu kita memutar nostalgi tentang tanya itu. Tentang satu hal yang Kau lontarkan kepadaku di waktu lalu. Tanya yang Aku tak tahu mengapa Kau tanyakan itu padaku. “Untuk apa sebenarnya? Dulu Aku terlalu bebal untuk mencerna maksud ambigu dari sebuah tanya. Sekarangpun mungkin masih bebal, tak peka. Mengapa tanya itu terlontar dari mulutmu? Tanya yang seakan meminta Aku untuk menjadi pendamping manusia dengan kekurangan yang jelas-jelas definisi tentang kekuranganmu? Ah, mungkin Kau pun tak tahu mengapa. Kau selalu menggaruk-garuk kepalamu kalau tak yakin akan ucapanmu,” begitu akhirnya ujarku malam itu sebelum kepergianku. Katamu akhirnya, di malam itu sebelum kepergianku, mungkin Aku saja yang sedikit sentimentil dan berprasangka. Yah, mungkin Kau tidak seperti semua deskripsiku di atas.. Mungkin Aku salah. Mungkin Kau begitu hanya di khayalku belaka. Mungkin karena Aku sedang dirundung hampa. Mungkin karena kini Aku yakin tak pernah inginkan Ia. Mungkin karena Aku yakin Ia tak pernah inginkan Aku. Mungkin karena Ia ingin bebas. Mungkin karena Aku ingin Ia bebas. Mungkin karena Aku hanya ingin belajar dari Ia bagaimana bebas. Mungkin karena seperti katamu, Aku aneh.Tak apa..