alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Wednesday, May 10, 2006
09.05.2006Tuesday00.53
Saya baru saja berkaca dan ternyata mata saya sudah merah.Ia meminta istirahat sepertinya.Harusnya saya mengantuk.Tapi sedang enggan tidur. Ada tugas rutin kuliah yang ingin saya selesaikan supaya tidak terlalu menjadi DEADliners
Itu tadi hanya pengantar. Sebenarnya saya sedang ingin menulis tentang obsesi, lebih sempitnya lagi obsesi terhadap seseorang. Menurut saya ada dua jenis obsesi. Obsesi ingin memiliki dan obsesi ingin menjadi. Menurut saya, obsesi ingin memiliki sama dengan menjadi posesif. Menjadi pemilik tunggal terhadap sesuatu.Sementara obsesi ingin menjadi adalah yang sempat dan masih saya alami sekarang. Obsesi ingin menjadi cenderung dimiliki oleh seseorang yang beranggapan hidupnya akan menjadi lebih baik jika ia menjadi sesuatu atau seseorang yang ia obsesikan. Orang yang mengalami obsesi jenis ini, menurut analisis tanpa data yang akurat dan sangat sok tahu dari saya, adalah orang yang masih ingin terlihat mandiri dan bebas. Obsesi yang satu lagi, yaitu obsesi ingin memiliki, adalah orang yang haus kekuasaan tapi siap terikat dengan sesuatu yang dia obsesikan (lagi-lagi ini analisis tanpa data yang akurat dan sangat sok tahu dari saya). Karena saya sedang mengidap obsesi jenis ingin menjadi, maka saya hanya akan sedikit membagi penalaran saya tentang obsesi ini. Saya mengidap obsesi ini sejak saya bertemu seseorang, tidak usah sebut nama, berjenis kelamin pria, sepertinya heteroseksual, suaranya seksi (menurut saya lhooo...). Ia seniman, mengaku seniman, dan saya sepakat. Ia menyukai seni, menghasilkan karya seni, bagi saya itu cukup untuk disebut seniman. Karena seniman adalah orang yang bisa dan berani mengekspresikan apa yang ingin ia sampaikan, apapun medianya, apapun bentuknya. Saya bertemu dia hanya beberapa kali. Tapi percaya tidak percaya, saya bisa mengingat tiap perjumpaan kami secara detail! Saya ingat lokasinya, saya ingat suasananya, saya ingat dia pakai baju apa, saya ingat setiap kata-kata, mimik, dan gerak tubuhnya, saya bahkan bisa mendefinisikan aroma tubuhnya yang tercium oleh hidung saya. Awal obsesi saya ingin menjadi seperti dia adalah ketika kata-katanya berbenturan dengan cara saya memandang sesuatu. Kami sempat sedikit adu argumen, tapi mimiknya saat itu sedikit tersentak dan kelihatan lucu. Kemudian saya sadar, orang ini bebas, dan tampaknya satu kata itulah yang membuat saya tertarik dengan dirinya sampai akhirnya terobsesi. It seems fun to be in his shoes..He's got talent, He's got free, He's got it all i think i want to reach my dreams..Dia melakukan apa yang dia suka. Punya cara tersendiri menggapai mimpinya. Dia tak terlalu peduli reward atau hasil akhir suatu hal. Basisnya melakukan sesuatu adalah tulus, kemudian proses mewujudkan ketulusan itu. Nah, ini yang masih kurang saya mengerti. Mungkin karena saya sudah memutuskan keseluruhan sistematika perwujudan dan pencapaian sesuatu adalah penting dan tak boleh diputus. Meskipun saya setuju yang terpenting adalah proses, saya tetap ingin hasil akhirnya sesuai dengan keinginan dan harapan awal saya. Dan kata tulus? Mm...nice word, but...still hard to describe the implementation of it..Saya jadi ingin bisa bermain banyak instrumen musik seperti dia. Ini keinginan saya dari dulu sebenarnya, cuma karena saya malas dan lemot, jadi pelajaran menguasai alat musik dari bapak saya yang juga bisa menguasai banyak instrumen musik menguap entah kemana. Saya jadi ingin punya kamera tua.Ya..setidaknya melihat bentuk kamera yang dia punya. Bahkan saya ingin pergi ke suatu pantai pun karena saya tahu ia cukup sering dan menyukai pantai itu..Begitulah..Tapi karena ini cerita tentang penalaran obsesi dan bukannya tentang orang yang saya obsesi ingin menjadi, saya akan memotong cerita tentangnya..Menurut pemahaman dan pengalaman saya, obsesi menunjukkan seseorang selalu butuh tempat menggantung harapan agar tak tersesat dalam hidup ini. Jika tak ada obyeknya dalam bentuk manusia pun, setiap orang tahu kegiatannya. Tapi saya lebih setuju patokannya lebih kepada aktivitas, bukan orangnya. Entah yaaa kalo terobsesi ingin menjadi cantik atau mulus seperti tokoh idola...Mungkin obsesi posesif terhadap penghargaan yang didapat orang tersebut..
Intinya, obsesi tak ubahnya peta menuju tujuan hidup. Bisa jadi pemicu. Sekaligus bumerang yang tak bisa dikendalikan dan akhirnya mengenai jidat kita sendiri!Dan Obsesi menyadarkan saya bahwa bahwa obsesi hanyalah bukti lain bahwa seseorang yang mengidap ini masih "hidup", karena masih ada motivasi untuk mencapai sesuatu..Ah, jadi ingat orang itu..Hehehe..