alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Wednesday, May 17, 2006
16.04.2006
Tuesday
19.00
Kondom Dalam DompetAlat apa yang sering diiklankan sebagai tameng pencegah penyakit AIDS? The answer is so easy : KONDOM.Penemuan mutakhir bagi mereka yang ingin bersenggama sekaligus mencegah kehamilan. Bagi perempuan yang tidak mau repot memasang alat kontrasepsi seperti spiral atau menenggak pil KB, atau bagi pria yang emoh divasektomi, kondom menjadi must have item tiap kali libido mereka menggebu-gebu dan butuh penyaluran yang lebih dari sekedar masturbasi.Saya tidak tahu kapan pastinya kondom ditemukan dan diproduksi massal.Saya juga tidak tahu siapa jenius yang menemukannya pertama kali.Saya bisa saja mengetahuinya lewat internet, tapi nanti sajalah..Yang saya tahu, kondom tergolong barang yang mudah ditemukan. Entah mengapa, saya yakin sekali pemilik saham pabrik kondom pasti tajir mampus! (Saya berniat mengadakan penyelidikan kecil2an berapa keuntungan yang mereka raup).Walaupun benda dari lateks ini termasuk murah, tapi para penggunanya selalu butuh yang baru dan fresh.Dan meskipun beberapa teman pria saya yang menjadi konsumen berkata tidak suka memakai kondom saat ML dengan alasan tidak nyaman dan "Kurang pol terasa", toh mereka tetap memercayakan keahlian benda tersebut supaya mereka tidak jadi bapak saat mereka belum siap. Mengutip pernyataan salah satu teman saya "Kalo bisa pake rangkap, jaga2 kalo kebobolan."
Konotasi kondom pun akhirnya tak jauh-jauh dari seks luar nikah.Safe sex combine with free sex is better than just free sex right? "U never know when u need it"..Slogan itu sering banget terdengar dari orang2 yang menyimpan kondom untuk keadaan darurat..Itu pula yang selalu saya katakan jika seseorang sedang mengutak-atik dompet saya dan menemukan satu kondom jenis fiesta dotted.."kok nyimpen kaya ginian sih ti?" begitu tanya mereka dengan intonasi yang berbeda-beda.Ada yang tertawa, ada yang sambil dengan nada jijik (tapi tetap tersenyum), ada yang benar2 seperti tidak suka..Contoh pihak yang bertanya dengan nada tidak suka adalah kakak saya, ope dan sepupu saya, dini. Mereka bertanya dengan nada tidak suka. Mereka menganggap saya nyeleneh..Saya balik bertanya kemarin sewaktu pulang ke Jakarta, "Loh, memangnya kenapa kalo nyimpen, u never know when u need it,hehehe"Tapi ternyata mereka tidak tertawa melihat respon saya yang seperti itu..Mereka bilang itu TIDAK PANTAS...Astaga! Apa yang membuat benda sekecil kondom (yang masih terbungkus rapat plus pelumas didalamnya) tidak pantas berada di dompet saya? Saya pribadi melihat kondom seperti perlambang sedikit bagian di diri saya yang sering nekat tapi tetap (kadang2) memikirkan resiko dari apa yang saya perbuat. Kondom itu seperti guyonan..Dan saya sekarang sedang benar2 menikmati setiap guyon yang terjadi dalam hidup saya..Seperti kondom yang tetap beresiko bocor, begitupun saya melihat kehidupan saya.Seberapa besar keinginan saya mengatur, menata dan berdamai dengan semesta di sekeliling saya, kadang hal2 eksternal juga internal diri saya nggak bisa diatur. Masalah selalu bisa merembes masuk ke kehidupan saya. Walaupun, mengutip pernyataan sobad2 saya, "lo tuh nggak peka ti, jadi apa aja keliatan datar"..Ya memang, ketidakpekaan saya itu saya analogikan seperti kondom..Tipis, tapi tetap melindungi saya..Pelumas dalam kondom seperti tawa saya yang selalu melicinkan masalah yang bikin seret pikiran saya..Keelastisitasan kondom yang pernah saya saksikan di televisi bisa melar sampai selebar dua lengan orang dewasa, membuat saya berharap hati saya seelastis dan selapang itu jika kekesalan sedang memuncak..Dan karena jumlahnya yang banyak, saya berharap saat satu kondom milik saya robek, saya bisa mencari yang lain dan menjalani kehidupan saya dengan tawa, senyum, dan "ketidakpekaan" yang sering membantu saya (dan terkadang merugikan saya pula)..Ini sebenarnya alasan saya menyimpan kondom dalam dompet saya..Bukan untuk gaya2an, tapi sebagai pengingat saja seperti apa yang sudah saya utarakan..Mengapa kondom dinajisi, aneh rasanya..Kondom hanyalah benda mati..Hanya karet yang mengikuti lekuk anatomi alat kelamin pria..Kalau nggak dipake, ya ndak ngepek juga..Tapi kakak dan sepupu saya bebas mau melihat kondom itu seperti apa..Mempersepsi seperti apa..Saya pun akan lantang berkata seperti inilah cara saya melihat kondom...Dan inilah persepsi saya terhadap kondom..Setelah semua itu, saya menarik kesimpulan kondom hanyalah bentuk lain pelimpahan penilaian manusia terhadap suatu hal, dalam hal ini tentu sex..Ketika menyinggung sex otomatis menyinggung nilai-nilai dan norma-norma..Kondom di satu sisi merupakan bentuk penistaan dari inovasi yang menyokong kebebasan manusia menyalurkan kebutuhan biologisnya, tapi di sisi lain juga pengkultusan modernisasi untuk rasa aman manusia yang seiring pergerakan zaman selalu tertimbun paranoia2 baru..Paranoia yang berhasil diatasi kondom tentu saja kekhawatiran dan ketidaksiapan orang-orang yang masih ingin bermanja2 dengan ketidakpunyaan-tanggungan..Jadi, ketika melihat kaum saya melalui kondom, saya berpendapat, dan saya yakin ini : manusia selalu mencari tameng yang sewaktu-waktu bisa dipakaikan topeng untuk menjadi kambing hitam, agar ia tidak dipersalahkan.. Itulah nasib kondom rasanya..Yang salah satunya bersemayam (semoga aman) di dompet saya..