blog
Thursday, May 25, 2006
DeJaVu Kepedulian yang Angkuh
21.05.2006Sunday18.36
Hujan baru saja mulai reda saat sebuah pesan pendek mampir di telepon selular saya..
Pernah kubaca nasihat dari sebuah buku, bunyinya kira-kira seperti ini : tidak usah meletakkan beban seluruh dunia di pundakmu, kau tidak perlu merasa bertanggungjawab atas segala ketidakadilan di muka bumi, realistislah dan jalani saja hidup ini.Tapi kenapa gw ga bisa mengenyahkan rasa bersalah ketika melihat kakek tua meringkuk di sudut sana?Sementara gw hanya bisa diam dan tak berlaku apa-apa.Ah, bukankah dunia sudah menjadi terlalu angkuh terhadap kita? (dan di luar hujan masih saja...)
Pengirimnya adalah sahabat saya yang menurut saya sama dinginnya dengan saya.Dingin dalam artian malas (atau malu?atau tidak bisa?) untuk memperlihatkan reaksi emosional yang dirasakan. Entah mengapa kami kerap merasa begini dan begitu terhadap suatu permasalahan tapi enggan meluapkannya bahkan dengan mimik sekalipun..Saya rasa kadang saya bersikap tidak adil terhadap diri saya sendiri..Tidak adil membagi "subsidi kasih sayang" antara rasionalitas dan emosional (baca:perasaan). Saya terlalu memanjakan rasionalitas hingga menjadi makhluk yang, mengutip pernyataan salah satu kawan baik saya "mekanis", dan mengendapkan luapan emosi itu tadi..Seperti menangis,marah yang sampai titik ngamuk, apapunlah..Karena entah mengapa, itu membuat saya merasa jauh dari kata lemah, lembek, cengeng..Dan bagi saya rasionalitas jauh lebih berguna daripada emosionalitas dalam kehidupan saya..Tapi emosionalitas saya berontak untuk diperhatikan suatu ketika.
Berawal dari sebuah Film berjudul United States Of Lelland yang berkisah tentang kesedihan dan kesalahan dalam hidup..Film yang sunyi dan gelap, tapi menarik dan dalam..Ada satu kalimat yang mengena di diri saya :"Just because you did something wrong, doesn't mean given up your life is right"
Saya sering memikirkan kalimat ini tiap kali saya mencoba menepis setiap masalah saya dengan mengatakan kalau masalah itu hanyalah sebuah bagian dalam siklus kehidupan.Itu akan lewat seiring waktu.Jadi tak perlu repot2 dan terburu-buru memikirkan penyelesaiannya.Saya pikir itu cukup bijak.Tapi tampaknya saya tidak sepenuhnya benar.Itu sama saja dengan pasrah,nrimo.Semakin saya memikirkan kata pasrah, semakin saya teringat kata "apatis", lalu "tidak peduli".Dan saya begidik!Saya tidak pernah mau jadi orang yang apatis dan tidak peduli. Menurut saya menyedihkan..Seperti merasa nyaman di dalam kotak dan merasa dinding2 di sekeliling saya adalah pemandangan semesta. Kemudian jadi orang sok tahu dengan spesifikasi gampang menghakimi orang lain dengan kacamata diri sendiri..
Pesan pendek dari sahabat saya itu mengingatkan sebuah perbincangan antara kami berdua di jurnal milik kami.Seperti de ja vu.Sepertinya kami pernah membicarakan masalah kepedulian terhadap suatu hal yang menggugah, terkadang mengguncang sisi emosional manusia karena individu itu merasa, ada yang perlu diubah dari hal yang menggugah itu.Tapi di satu sisi menimbulkan kebingungan bagaimana mengubahnya.
setelah menelusuri, akhirnya saya menemukan perbincangan kami. Tertanggal 09.02.2006, saya menulis :
kadang2 gua mikir...kalo seseorang udah pernah bikin kesalahan fatal, terkadang akhirnya dia nyerah karena menurutnya hidupnya udah terlalu ruwet untuk diperbaiki...Akhirnya dia pasrah, pengen lari...Mungkin bener kata lo...Mungkin kita hanya gugup menghadapi hidup...Iya, gugup kalo udah bikin salah trus bingung ngebenerinnya kaya gimana...malah takut kalo berbuat sesuatu lebih memperparah yang udah ada...
Mmm..kalo menurut lo kasus TKI yang terancam hukuman mati qisash di turki karena membunuh laki2 yang hampir merkosa dia gimana?Adil ga?Kalo lo di posisi cewe yang mbunuh krn mau diperkosa gimana?Trus dijatuhin hukuman qisash karena keluarganya menuntut lo membayar pembunuhan yang lo lakuin...Kan salah si cowonya mau merkosa..Kok keluarga cowonya tega sih minta si pembantu ini dihukum mati!!!!Haarrgggh...jadi uring2an sendiri dah gua!!!
Kemudian sahabat saya mengomentari :
10 feb '0612.48 pm
manusia,tak pernah lelah menuntut keadilan; tak pernah mau diadili.gw inget satu teori tentang kematian: Tuhan telah menetapkan ajal manusia, namun manusia itu sendiri yang memilih caranya.kalo gw berada di posisi si TKI, kemungkinan besar gw jg akan melakukan tindakan yg sama (berharap saja gw punya cukup nyali). tapi tentu saja, kita tak pernah berhak memutuskan waktu kematian seseorang. tapi kurasa Tuhan memberi kita cukup hak untuk membela diri.perempuan itu barangkali hanya satu contoh, dunia tak akan pernah cukup adil selama manusia masih bersemayam di dalamnya. ia hanya sedang sial, karena (entah mengapa) terpilih menjadi (salah satu) korban kesialan.dan jika manusia-manusia ini merasa cukup berhak untuk menggariskan waktu dan cara kematian perempuan itu, maka hanya satu hal yg bisa kukatakan: matilah dengan bangga!
Dan, Ti, gw salut atas kepedulian lu, tapi terkadang kita ga bisa berbuat apa-apa. lu liat, setelah segala kekacauan, kontroversi, kerja keras, dan kegetiran ini, dunia tetap akan terus berputar hingga habis masa. bahkan di saat kita diam dan ga berbuat apa-apa, namun jika begitu buat apalagi kita hidup? tetaplah menggugat walau tak seorang pun ingin mendengar, karena hal itu akan menjagamu tetap sadar.
saya mengomentarinya lagi beberapa hari kemudian,14.02.2006:
Dan apa gunanya kita sadar?Hah! Terkadang gua pengen ga ambil pusing semua hal itu....Toh itu bukan masalah gua...Hhh...apa iya ini yang namanya naif? Saat lo nganggep itu sesuatu yang harusnya diubah dan orang2 berpikir adalah konyol bahkan untuk sekedar memikirkannya...Sometimes it make me feel so god damn insecure...Dumb to...Yah...apa yang bisa gua lakuin cuma ngegugat itu semua kayanya...
Kami berdua berbicara tentang kepedulian yang angkuh.Kepedulian yang cuma bisa berkata dalam hati, "Duh, anak2 nggak seharusnya berada di jalanan", "Kakek tua itu nggak punya keluarga apa? kok ngeringkuk sendirian?", blablabla, tapi nggak berbuat apa2 untuk mengubahnya..Karena bingung atau udah pernah mencoba merubah tapi gagal..Angkuh karena juga tidak ingin menunjukkannya..
Pesan pendek sahabat saya itu membuat saya terdiam cukup lama..Saya mencoba mengingat-ingat implementasi macam apa yang telah saya lakukan untuk mengatasi kepedulian saya yang meresahkan itu..Ternyata tidak banyak..Saya tidak punya banyak harta untuk membantu orang2 miskin misalnya..Saya peduli dengan anak2 kurang mampu dan berusaha mengajar mereka, tapi ketika mereka menolak saya mentah2, saya pun jadi malas..Yah, setelah mengingat sekian lama, implementasi saya tidak banyak ternyata..Dan saya jadi makin terdiam dan bingung menfeedback sms sahabat saya itu..Meski ia tidak meminta dan mungkin hanya ingin bercerita, tapi saya ingin menyikapi dan menarik benang merah topik kepedulian yang pernah kami bahas.Sekedar mencoba memaknai dejavu tak berkesudahan (halllah,naon sih?haha)..
Setelah terdiam, akhirnya saya menulis seperti ini di jurnal kami,yang saya harap bisa merubah angkuhnya kepedulian kami:
Aku tak tahu kawan.Sungguh, terkadang pikiranku buntu memaknai adil tidaknya lakuku menghadapi segala stimuli yang menghantam kepedulianku yang makin angkuh.Telah kukatakan berulang kali kepadamu, bahkan terkadang aku jenuh; bagaimana mengubah dunia menjadi tempat yang lebih layak untuk dihuni?Namun seorang kawan baik pernah berkata, "lakukan sebisamu." Dan aku mencoba melakukannya hingga kini.Sesak itu masih bercokol di dada, tapi setidaknya aku tidak BERPURA-PURA kalau itu tidak ada dan tidak peduli..Maknai hidupmu..Nikmati saja rasa bersalah itu..Nikmati kesadaran yang pernah kau kabarkan padaku di waktu lalu..Hanya itu yang bisa kututurkan, meski aku tahu itu tak cukup...tak pernah cukup.tak akan pernah cukup...