alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Wednesday, May 10, 2006
09.05.2006Tuesday00.14
Saya sangat menikmati pergantian tanggal kali ini.Mengapa?Yang pertama karena Republik BBM yang membuat saya tertawa. Tidak sendiri, melainkan bersama sahabat saya Deriz..Tema yang dibahas pada edisi kali itu standar sebenarnya: korupsi..Tapi kocak aja. Sudah lama saya tidak melihat hal-hal gelap dibahas untuk dikaji bersama gelak dan canda.Alasan yang kedua, beberapa jam yang lalu saya membaca artikel yang membahas kecerdasan yang juga membuat saya tersenyum geli. Artikel di majalah SPICE, yang nulis Ringgo, salah satu aktor yang bermain di Jomblo..Ia mengaku tidak pernah merasa cerdas, tapi justru dari situ saya melihat bahwa ia cerdas. Ia bisa mendefinisikan cerdas dengan caranya yang kreatif, cara nya sendiri, dan menurut saya itu cerdas. Menurut saya cerdas itu bisa membuat semua yang sulit bisa menghibur.Selalu menemukan sisi positif.Saya setuju dengan definisi cerdas milik Ringgo. Baginya cerdas itu tidak mengintimidasi orang sehingga membuat orang lain kelihatan bodoh. Cerdas tidak menimbulkan orang lain disekitarnya tidak nyaman (Ia menyebutkan menimbulkan iri hati yang berarti membuat orang lain dosa, tapi bagi saya dosa itu urusan personal dengan Tuhan jika orang itu percaya Tuhan. Dan saya bukan orang yang begitu peduli dengan dosa orang lain. Selain karena saya sepertinya masih banyak dosa dan terus menerus tidak sadar sudah dan kemungkinan akan berbuat dosa, bagi saya orang iri hati adalah orang berjiwa kerdil yang saya tidak mau menjadi. Membicarakan mereka sama saja membuat saya kerdil. Selain nanti saya sombong karena tidak sudi disejajarkan dengan mereka, bisa-bisa saya malah menjadi penggosip yang mencampuri urusan orang)Yang ketiga karena saya akhirnya memiliki keberanian untuk mengirimkan salah satu cerpen saya yang tertunda sekian lama. Saya bersyukur pada saat saya mengirimkannya kekhawatiran saya akan dua hal tidak muncul dan membuat niat saya urung.Kekhawatiran pertama tentunya karena saya tidak ingin mempermalukan diri saya sendiri kepada redaktur cerpen media yang saya kirimi cerpen. Selalu ada kekhawatiran dia menertawai cerpen saya tidak bermakna atau banyak keanehan di sana-sini. Tapi kekhawatiran ini berhasil saya tebas karena bagi saya penting untuk pendewasaan diri saya untuk tidak jadi pengecut dan mencoba setiap kesempatan yang ada. Kekhawatiran yang kedua adalah jika cerpen saya dimuat (AMINNN...) akan ada pihak yang merasa tersindir jika kebetulan dia membeli koran itu dan membacanya. Dalam cerpen itu ada kisah dia yang sedikit saya pinjam. Bahkan kata-kata yang pernah dia ucapkan ke saya terang-terangan saya tulis. Saya takut dianggap pendusta. Tapi saya lagi-lagi tidak terlalu khawatir, karena dia tidak tahu nama panjang saya. Ia hanya tahu nama panggilan saya. Syukurlah..Hahaha. Lagipula rasanya ia tahu kalau itu hanyalah sebuah cerita pendek, sama pendeknya dengan kisahnya dengan saya (kalau ia menganggap itu sebuah kisah, dan bukannya sekelumit lelucon garing)Yang keempat karena saya akhirnya yakin, kekecewaan yang sempat menimpa sahabat saya yang lain, Ipeh, ternyata bukan datang dari saya. Dan saya juga senang sekaligus lega karena kekecewaan itu telah pudar dan menjadi cambuk tersendiri baginya untuk bangkit dan mengejar impiannya (Baca : sesuatu yang dibutuhkan setiap orang rasanya)Benang merah keempat alasan saya menikmati pergantian tanggal dari 8 ke 9 tersebut adalah "menertawakan".Beberapa waktu yang lalu saya melihat kesedihan dan kegembiraan dengan sikap yang, katakanlah, "dalam dan gelap"..Sastrawi sekali..Menjabarkannya bersama orang-orang sekitar dalam makna yang puitis..Tersenyum tetap, tapi tipis saja..Saya menikmatinya, sungguh, tapi sensasi kali ini berbeda..Hm..sudah saatnya merumuskan ya? Karena sudah hampir penghujung tulisan.Tapi saya tidak ingin merumuskan apa-apa di sini. Mungkin hanya sedikit menegaskan, kalau hidup itu akan menjadi lebih bermakna kalau kita bisa mengisinya dengan positivitas bernama menertawakan. Bukan tertawa mencibir, tapi menikmati. Karena saya orang yang percaya hidup itu cuma sekali.Karena saya belum membuktikan sistematika reinkarnasi..Jadi mari nikmati hidup yang singkat dan cuma sekali ini dengan menertawakan..Tapi jangan lupakan duka.Duka tetap perlu untuk estetika bahagia. Ia akan selalu mengingatkan kita betapa nikmatnya bahagia.Sekian....