blog
Tuesday, January 03, 2006
01.01.2006
Sunday
23.55
Suatu sore yang cukup dingin di penghujung 2005. Hujan masih merintik. Membasahi apa saja yang tak dinaungi atap. Kepala kami, aku dan ibuku, sedikit basah. Payung kami serasa mubazir saja dibawa.
Kami masih berjalan beriringan. Aku di depan, dengan denah buatan tangan. Ia di belakang, dengan kaki terbebat sakit. Tujuan kami, sebuah tempat praktek dokter di Jalan Naripan.
Ah, Tuhan memang sedang berderma. Tak ada kata tersesat. Ternyata kami turun dari angkutan umum di tempat yang tepat. Hanya beberapa langkah, dan kami sampai.
Ruang tunggu itu tak seberapa besar. Bentuknya bujur sangkar, dengan panjang 6 bangku di ketiga sisinya. Sisi keempat untuk si pengatur pasien yang mendaftar, seorang lelaki tua yang tangannya gemetar tiap kali menulis. Lelaki yang penuh senyum dan keramahan. Sedikit tuli. Tapi memang tiap usia memiliki pemakluman masing-masing.
Di daftar pasien hari itu tertera nama ibuku, di urutan keempat. Kami menunggu. Ibuku terus mendesak untuk dilayani terlebih dahulu. "Dokternya sudah ada kan pak?" tanya ibu. Bapak itu menjwab dengan anggukan. "Belum ada pasien ya?" tanya ibuku lagi. Bapak tua kembali mengangguk. "Saya bisa duluan nggak kalau gitu? Saya orang jauh. Dari Jakarta," katanya. Tapi bapak tua hanya tersenyum. Entah karena samar mendengar, atau menyuruh ibu ku bersabar. Dan ibu ku bertambah gusar.
15 menit kami menunggu. Menonton televisi yang menayangkan program kriminal, aku lupa nama acaranya. Edisi khusus tahun baru. Semacam kaleidoskop rangkaian kejahatan yang terjadi selama setahun. Mulai dari pencurian, pemerkosaan, dan tentu saja, pembunuhan.
Kejam, hanya itu yang terlintas di otakku sampai tayangan itu usai. Ini ringkasan liputannya : Copet yang dipukul habis-habisan sepanjang jalan. Di arak setengah telanjang. Dimasukkan ke bagasi, pasrah menunggu mati. Ada lagi Korban pemerkosaan di bawah umur yang wajahnya disamarkan. Ditutup dengan berita berbagai pembunuhan atas nama harta, keluarga, sampai sakit hati.
Semua mengguratkan darah. Mungkin benar kata bapak, orang-orang Indonesia sudah mulai gila. Sepertinya, begitu sulit meredam amarah pemukul-pemukul pencuri. Begitu sulit meredam nafsu birahi pemerkosa-pemerkosa. Begitu sulit menolak godaan harta dunia. Begitu sulit memaafkan dan berbelas kasih kepada sesama.
Terlintas tanya, "kemana keramah-tamahan yang dulu menjadi citra orang-orang di negeri ini?" Apa itu tak ubahnya benteng yang hanya terlihat oleh mata turis dari luar saja sementara dibalik benteng itu kanibalisme sedang terjadi?
Kini benteng itu kian runtuh di mataku. Hmpff...Kian tahun kejahatan kian marak. Kemiskinan kian memuncak. Berkembang biak seperti jamur yang diberi lembab. Tak berapa lama terdengar bunyi terompet kertas ditiup, mengingatkanku kalau itu hal yang maklum terjadi. Ini memang akhir tahun. Tapi....adakah orang-orang yang nantinya bersorak berteriak riuh menghitung mundur menjelang dini hari 1 januari menyadari hal itu? Bahwa tahun baru hanyalah euphoria belaka. Ataukah mereka hanya ingin dianggap kaum yang berbahagia? Memilih mengesampingkan pikiran derita dan orang2 yang tertimpa nestapa? Dan astaga, aku teringat, seharusnya aku tak berburuk sangka....
(Tiba2 pintu kamar praktek terbuka....)
Ah....Lagi-lagi Tuhan berderma. Dokter yang seharusnya baru menerima pasien seusai adzan maghrib keluar dari ruangannya untuk berbicara sebentar dengan di bapak tua. Ia masih berpiyama, belum mandi. Ibuku memang gigih. Langsung saja dokter itu ia sergap, dan berhasil. Dokter itu urung mandi.
Seusai ibu diperiksa, kami pun bergegas pulang. Hari sudah senja, namun mendung membuat semuanya berwarna abu. Saat kami menunggu Damri, ibu menyuruhku membeli bakpau untuk bapak dan kakak. Saat itulah perbincangan ku dengan tukang bakpau terjadi. Seputar tahun baru 2006 yang sebentar lagi datang. Tukang bakpau itu berkata bahwa sepertinya tak akan banyak perubahan terjadi dalam hidupnya. Tahun baru hanyalah hari lain dari tanggal 31 Desember ke 1 januari.
Tahun 2004 ia tukang bakpau, tahun 2003 juga tukang bakpau, mundur 10 tahun pun ternyata ia sudah menjadi tukang bakpau. Terbaca tidak? Ternyata pergantian tahun tidak banyak memberi warna pada diri si tukang bakpau. Aku tidak tahu ia punya resolusi atau tidak. Aku bahkan ragu ia mengerti apa itu resolusi (tanpa bermaksud merendahkan).
Damri pun datang. Sejenak setelah duduk, seorang laki-laki dengan tumor yang menggayut menutupi lebih dari setengah permukaan wajah naik dan berceloteh dengan gumaman tak jelas. Kata2nya seperti menyangkut di bibirnya yang mampu bergerak sebelah kiri saja. Tapi jelas, yang ia minta adalah uluran tangan. Uluran tangan dengan uang tentunya. Banyak yang memberi. Berharap dapat membantu.
Usai laki2 itu pergi, datang lagi laki-laki lain. Kali ini ia menawarkan sesuatu seperti jadwal pertandingan persib. Entah, ia berbicara dengan bahasa sunda yang cepat. Kasihan, tak ada satupun penumpang yang menanggapinya. Entah karena mereka sama sepertiku, tidak mengerti bahasa sunda atau memang sengaja tak mengacuhkan lelaki itu. Dan si lelaki pun menggerutu...dengan bahasa sunda tentu...
Hujan masih merintik... Titiknya menyangkut di jendela-jendela bus yang melaju pelan mengikuti arus kemacetan. Tampak penjual terompet di sisi2 jalan. Semuanya menyelimuti dagangan mereka dengan plastik bening. Sepi, tak banyak pembeli. Ada satu bapak yang sedang menawar untuk anak gadisnya. Mungkin harga terompet itu terlalu mahal. Tampang penjualnya sudah pasrah. Terompet itu pun jatuh ke tangan si gadis cilik.
Pemandangan tahun baru di emperan bandung... Sepi, tak terjamah gemerlap kembang api. Tak ada hentak musik sang musisi papan atas, orkes dangdut pun tidak.
Lalu apa yang sebenarnya dirayakan? Sesuatu yang lebih baikkah yang menanti di tahun 2006? Siapa yang bisa tahu? Bisa saja dunia cuma sampai disini. Bisa saja terompet yang berbunyi adalah sangsakala Israfil bukan?
Hahaha, jadi ingat sinetronnya si Saprol kegemaran keluargaku, "Kiamat sudah dekat"...
Tapi aku tak berhak melarang orang merayakan masehi yang baru...Mereka punya alasan tersendiri yang mungkin sama kuatnya bagiku untuk tidak merayakannya dengan suka cita, bunyi terompet, atau apapun jua...
Begitulah...Selamat(kan) tahun baru semua....!