alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Tuesday, January 03, 2006
25.12.2005
Sunday
11.30
karena ia,
adalah sebuah keajaiban,
sebagaimana tiap bayi,
tiap wajah,
adalah sebuah keajaiban,
karena ia sebuah tanda,
bahwa kita hanyalah perantara,
bahwa kita hanyalah perawat
........sebuah hidup yang tak sepenuhnya kita kuasai.......
-Goenawan Mohammad, Caping Tempo 12-18 Des. 2005-
Gadis itu baru berumur 4 tahun ketika keperawanannya pertama kali terenggut. Di sebuah kedai makanan setempat, ia diperkosa, beramai-ramai, oleh entah berapa laki-laki. 4 kali. Persis sama dengan usianya saat itu. Ibunya lah yang mengantarnya saat itu. Untuk satu tujuan, uang. Karena bagi ibunya, uang berarti hidup. Kejadian itu terjadi berulang kali, kerap malah. Gadis itu menjadi pelacur. Bermucikarikan sang ibu, yang juga melacurkan dirinya sendiri. Ini kisah nyata di Afrika, si benua hitam. Nama gadis itu...ah!namanya tidak penting...
Kini gadis itu tak lagi menjadi pelacur. Mucikarinya, seorang perempuan yang melahirkannya, telah tiada. Kabar terakhir mengatakan bahwa ia sekarang sudah bisa tersenyum, bahkan tertawa, hal yang sudah lama tak ia lakukan. Mempunyai teman-teman yang bisa ia cintai dan mencintainya pula. Ia belajar menata kembali hidupnya yang ia anggap telah usai dan tertinggal di sebuah kedai. Ia berusaha merawat luka yang mungkin terlalu besar. Ia sedang mengobati dirinya sendiri.
Adalah kebaikan yang mengajaknya untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri. Adalah kebaikan yang memutuskan pertemanannya dengan gagasan bunuh diri. Kebaikan yang datang dari uluran tangan manusia-manusia lain, dari sebuah yayasan penampungan anak-anak jalanan. Sejatinya, ia telah diperhatikan.
Sederhana tapi juga mengandung pelik bukan? Betapa uluran tangan yang datang kepada si gadis bisa membuatnya bangkit dan kembali menjalani hidupnya yang telah morat-marit sejak ia masih balita. Pemerkosaan, kenangan yang pedih memang. Menjadi kian perih karena izin sang ibu yang membuatnya terjadi. Tapi salahkah sang ibu karena menjual darah dagingnya sendiri agar mereka tetap bisa makan sehingga terhindar dari mati kelaparan? Tak ada seorangpun yang berhak menghakiminya, tertutama yang tak pernah membantu suatu apa.
Gadis itu menjadi bukti kejaiban, seperti juga manusia yang lain. Keajaiban yang melahirkan kepedulian, kebaikan, perhatian. Keajaiban yang mungkin sanggup membuat bumi memang tempat yang layak untuk dihuni hingga ajal menjemput. Di atas semua benih sengsara, kebaikan membuat kita menjadi perawat. Bagi diri kita, orang lain, bahkan dunia. Keajaiban itu mendatangkan harap, bahwa semuanya bisa menjadi lebih baik.
Urasawa Naoki lewat salah satu karyanya, Monster, pernah berkata, "Manusia didesain untuk mencari kebahagiaan." Kebahagiaan macam apa? Standarnya terlalu abstrak. Kebahagiaan bagi satu orang belum tentu kebahagiaan bagi yang lain. Terkadang, kebahagiaan bagi satu individu adalah nestapa bagi yang lain. Tapi setiap jiwa pasti bisa tahu saat dirinya merasa bahagia, meski sesaat.
Karena manusia, siapapun ia, tetap ingin mempunyai kuasa atas sebentuk nyawa yang ia punya, walau tak penuh. Begitu bukan?