alcove
welcome to my labyrinth..
ENJOY!!
another safehouse
the amateur
tY
female
the loves
Literary, Movies, Art, Photography, Music, Avant Garde, Something Called "freedom" and "time", Hujan, SENJA-SENJA-SENJA!, Ice cream, Coffe (not too sweet please..), Kevin Spacey, Tidur di bis, SOAD, Radiohead, Rock n Roll Mafia, Bjork, Sartre, Ke tempat asing sendirian sambil ngeliatin orang2 yang nggak kenal sama gwe, chasing the sunset in Jatinangor (maksudnya lari sore gitu...),Masuk keluar supermarket tanpa harus membeli apa-apa (it's fun! u should try it sometimes), ngayal, ngupil, dan....NYUCI!!!!hehe
the dislikes
hmmmmm, dont know :/
blog
Thursday, December 01, 2005
Tampaknya, seumur hidupnya manusia selalu tertarik dengan yang namanya seks. Mau itu bentuknya gambar kek, fantasy only kek, suara doang kek, sampai direct seks, pasti menarik perhatian manusia. Tak pandang kelamin, apalagi umur. Mungkin, itu berkaitan dengan kodrat (atau hakikat?) manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang tak pernah puas. Termasuk didalamnya tak pernah puas akan keinginan untuk tahu lebih banyak. Jauh termasuk di dalamnya lagi, tak pernah puas akan keinginan untuk tahu lebih banyak tentang seks (Terima kasih Tuhan). Bisa jadi itu yang menjadikan derajat manusia lebih tinggi ketimbang ciptaan Tuhan yang lain, karena kita (bagi yang merasa manusia) diberi anugrah untuk memilih. Untuk bebas menentukan. Walaupun saya pribadi setuju dengan om Sartre, bahwa kebebasan manusia juga bentuk lain dari kutukan. Ya!manusia dikutuk untuk bebas.Hal inilah yang coba disuguhkan Sex&The City, keingintahuan yang mendalam tentang seks dan takdir manusia yang selalu berkaitan dengan urusan seks.Bukan hanya Negeri dengan adat Timur seperti Indonesia ini yang mengkritik diumbarnya seks untuk umum. Bahkan di negeri asalnya serial televisi terkenal ini, Amerika, yang jelas2 melegalkan usaha pornografi dalam segi bisnis perfilman dan mainan pun (Long Live Capitalist!!), perihal seks yang disajikan dalam Sex&The City pun dikritik oleh sebagian pihak, media massa cetak contohnya. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, diteliti secara mendalam, adegan yang ditayangkan serial ini tidak se-syuur..umm??...AHa!! Produk lokal kita, Bandung Lautan Asmara misalnya.Oh ya, memang formatnya dibuat untuk konsumsi pribadi dan tidak diplotkan untuk terlihat oleh badan sensor yah? Ok ganti contoh, seperti film-film yang dulu (dan sekarang juga masih) tayang di Bioskop pinggiran negeri penghutang ini (di mana bayi-bayi yang baru lahir pun ditempeli bon hutang).Di Sex&The City tidak pernah ada adengan telanjang penuh saat bersetubuh. Serial ini mayoritas menyajikan obrolan2 seputar seks. Memang sedikit vulgar. But, who cares? Itu cuma obrolan ringan, konyol, sekaligus cerdas dengan tema2 "pilihan" seperti, enak atau tidak oral seks itu, atau haruskan wanita mencukur bulu kemaluannya demi memuaskan pasangannya. Simple!! Ga neko2. Ga ada dandanan menor, high heels, baju ketat, atau desahan2 seperti film2 lokal yang saban (hampir) tengah malam Senin nongol di salah satu stasiun swasta kita.Kembali pada masalah seks dan manusia Indonesia. Jujur saja, manusia kita masih malu-malu dengan cara yang malu-maluin dengan pandangannya terhadap seks. Inul diprotes, tapi pelaku pedofili banyak. Video2 porno Barat yang jadi kambing hitam perbuatan bejat semacam itu. Susah memang, sekaligus membingungkan. Mengaku beradat Timur tapi suka kebarat-baratan, mengagungkan malah. Plural atau dualisme ya???